Rachmat Bagja: Bawaslu Terus Membuka Diri Terhadap Kritik dan Masukan
|
Kefamenanu, Bawaslu TTU – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Republik Indonesia lakukan Bedah Buku Koalisi Pewarta Pemilu dan Demokrasi (KPPD) yang telah menerbitkan sebuah buku berjudul Catatan Jurnalis Pemilu: Sejarah Keserentakan Pertama Terbesar di Dunia dengan melibatkan Bawaslu Provinsi dan Kabupaten/Kota secara daring. Rabu (20/8/2025).
Kegiatan ini diselenggarakan pasca rangkaian Konsolidasi Nasional Media Massa bersama Bawaslu dalam rangka Penguatan Pemberitaan Pengawasan Pemilu dan pemilihan Kepala Daerah Serentak 2024 dan juga sebagai Upaya pencerdasan demokrasi serta memberikan pemahaman yang utuh terhadap jajaran Penyelenggara Pemilu.
Buku-buku terbitan KPPD tentunya lahir dari tangan-tangan jurnalis pemilu yang menjadi saksi langsung perjalanan pengawasan serentak di lapangan dan melalui pengalaman langsung dan disampaikan kepada Masyarakat.
Ketua Bawaslu RI Rahmat Bagja dalam sambutannya saat membuka kegiatan Ini mengajak seluruh peserta untuk merefleksikan Kembali peran serta Media dan Jurnalis dalam pengawasan proses Pemilu.
“kita diajak melihat kembali catatan peristiwa serta dinamika sekaligus pelajaran berharga yang ada di lapangan yang diikuti ini Tentunya bukan hanya mengulas buku tapi juga merefleksikan peran media serta jurnalisme dalam pengawasan dan tentunya dengan rangka memperkuat kualitas demokrasi Indonesia”.
Lanjut Rahmat Bagja, sebagai anak bangsa seharusnya melihat dan juga memahami bagaimana tugas-tugas penyelenggara pemilu dengan adanya catatan dari teman-teman wartawan. Jadi Pemilu itu tidak hanya sebatas satu hari pemungutan suara, namun masyarakat hampir tidak melihat bagaimana proses pemilu ini berjalan dari awal tepatnya pada Tahun 2022 awal proses pemilu dilaksanakan hingga 14 Februari 2024.
“Proses -proses inilah yang kemudian ditulis oleh teman-teman wartawan, kemudian juga teman-teman wartawan melihat bagaimana proses-proses penyelenggaraan pemilu dan kesan penyelenggaraan pemilu seperti apa. Kesan wartawan terhadap penyelenggara pemilu, Bagaimana Komisi Pemilihan Umum dari tahun ke tahun, Bagaimana Bawaslu dari tahun ke tahun itu mencoba untuk membuka diri terhadap teman-teman wartawan dan berinteraksi untuk mendapatkan informasi mengenai pemilu”.
Kemudian juga dapat dilihat bagaimana perubahan-perubahan baik KPU maupun Bawaslu dalam mengawasi atau menyelenggarakan pemilu. “Misalnya kami berusaha terus menerus untuk membuka diri terhadap kritik dan masukan. Kami berharap seluruh kritikan dan masukan untuk menjadi bahan untuk kami melakukan evaluasi dan juga melakukan perubahan terhadap fungsi dan juga beberapa hal yang mungkin harus diperbaiki oleh pengawas Pemilu”. Ujarnya.
Diakhir sambutannya, Rahmat Bagja berharap bahwa Bawaslu selalu membuka diri dan itu merupakan bentuk dari persahabatan dengan teman-teman wartawan. Karena penyelenggara Pemilu tidak asik di mata masyarakat tanpa melalui tulisan atau kritikan dari wartawan ataupun apresiasi terhadap penyelenggara pemilu.
“Kami berharap bahwa kami selalu membuka diri dan itu merupakan bentuk dari persahabatan dengan teman-teman wartawan. Karena penyelenggara Pemilu tidak asik di mata masyarakat tanpa melalui tulisan atau kritikan dari wartawan ataupun apresiasi terhadap penyelenggara pemilu. Kemudian seluruh prosesnya bisa diakses oleh seluruh masyarakat di Republik tercinta ini kalau bisa kita semakin baik lagi. Ke depan Saya menginginkan wartawan juga ikut ketika kami mengawasi di lapangan”.
Penulis dan Foto : Humas Bawaslu TTU
Editor : Humas Bawaslu TTU