Lompat ke isi utama

Berita

Bawaslu NTT Ajak Semua Pihak Bumikan "Pengawasan Radikal" Melalui Spirit Ramadhan

Dok: Humas Bawaslu TTU

tangkapan layar pada saat berlangsungnya Zoom Ngabuburit Pengawasab Bawaslu Kabupaten TTU secara daring, Kamis (5/3/2026)

KEFAMENANU, BAWASLU TTU – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menekankan pentingnya transformasi strategi pengawasan yang lebih menyentuh akar rumput. Hal ini disampaikan dalam kegiatan diskusi daring bertajuk "Spirit Ramadhan dalam Refleksi Pengawasan Non-Tahapan" yang diselenggarakan oleh Bawaslu Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kamis (05/03/2026).

Kegiatan yang dikemas dalam balutan "Ngabuburit Pengawasan" ini diikuti oleh pimpinan Bawaslu TTU, jajaran sekretariat, para alumni pengawas, serta masyarakat umum melalui kanal Zoom dan YouTube resmi Bawaslu TTU.

Mengawali materi, Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat Bawaslu NTT  Amrunur Muh. Darwan, S.Si.  membedah perjalanan panjang demokrasi Indonesia. Ia mengingatkan bahwa Bawaslu lahir dari kegelisahan sejarah atas praktik kecurangan masa lalu, sehingga mandat menjaga kedaulatan rakyat harus dijunjung tinggi.

Amrunur mencatat adanya lima problematika pengawasan yang semakin kompleks saat ini, mulai dari pengawasan ruang digital yang belum optimal, transformasi politik uang ke ranah digital (e-wallet), hingga tantangan geografis wilayah kepulauan NTT yang sering mengalami kendala jaringan (blank spot).

Salah satu poin utama yang menjadi sorotan adalah gagasan mengenai "Pengawasan Radikal". Istilah ini diambil dari bahasa Latin Radix yang berarti akar.

"Pengawasan harus mengakar. Artinya, kesadaran kolektif harus muncul bahwa pemilu bukan sekadar mencoblos, tapi soal mengawal masa depan bangsa. Kita harus menggeser pola pikir masyarakat dari sekadar penonton menjadi pelopor yang berani melaporkan pelanggaran," tegas narasumber Bawaslu NTT.

Amrunur juga menekankan pentingnya pengawasan berbasis lokalitas, dengan menggandeng tokoh adat dan tokoh masyarakat di NTT untuk menjadi agen pengawas di tingkat desa dan kelurahan.

dok. Humas Bawaslu TTU

Menghadapi Pemilu 2029, Bawaslu NTT menyoroti lonjakan pemilih pemula dari kalangan Generasi Z yang mencapai angka signifikan. Per Desember 2025, data pemilih di NTT telah melampaui 4 juta jiwa.

"Gen Z akrab dengan teknologi instan. Tugas kita adalah memastikan literasi demokrasi masuk ke ruang-ruang digital mereka agar mereka menjadi pemilih cerdas, bukan sekadar sasaran empuk praktik politik uang," tambahnya.

Sebagai langkah konkret di masa non-tahapan, Bawaslu NTT telah menyiapkan berbagai program penguatan, di antaranya Bawaslu Membelajarkan (Penguatan internal melalui metode tutor sebaya.); Pendidikan Pengawas Partisipatif (Menargetkan pencetakan 5.000 kader pengawas pada tahun 2029) dan Saka Adhyasta Pemilu (Pelibatan aktif gerakan pramuka dalam pengawasan.).

Acara diawali dengan doa bersama ini kemudian diakhiri dengan silaturahmi virtual menjelang waktu berbuka puasa, mempererat kebersamaan keluarga besar Bawaslu di tengah tugas mengawal demokrasi. 

Penulis dan Foto: Humas Bawaslu TTU

Editor: Humas Bawaslu TTU